RSS

>NASIB KITA ADA DITANGAN KITA

26 Apr

>NASIB KITA, ADA DITANGAN KITA
Petugas kebun binatang menangkap seekor gajah. Kemudian ke
empat kaki gajah ini dibelenggu dengan rantai yang terbuat dari
besi. Setiap hari, gajah berusaha melarikan diri. Namun setiap
kali dia melompat, si gajah selalu terjatuh. Hal ini terjadi
berulang-ulang. Sebulan kemudian, rantai besi itu dilepaskan
dan diganti dengan tali rafia yang tipis. Menurut kita, apakah kali
gajah bisa melarikan diri ? Ternyata gajah tadi tetap melompat
dan tetap terjatuh seperti semula.
Apakah yang terjadi ? Bukankah gajah semestinya mampu
dengan kekuatannya untuk memutus tali rafia tadi ? Jawabannya
adalah ternyata waktu sebulan telah mampu membuat sketsa di
otak gajah bahwa dia tidak mampu melarikan diri. Meskipun
diikat dengan tali rafia namun di otaknya, dia merasa masih
diikat dengan belenggu rantai.
Percobaan yang hampir mirip dengan cerita di atas dilakukan
pada kutu loncat. Sebelum dia ditangkap, kutu loncat bisa
melompat setinggi 300 kali lebih tinggi dari tinggi dirinya. Si kutu
loncat ini dikurung di dalam kotak korek api. Pada bulan
berikutnya, dia dibebaskan. Tebak, apa yang terjadi ?
Kali ini si kutu loncat hanya bisa melompat setinggi kotak korek
api. Perhatikan, waktu sebulan telah menjadikan dia melupakan
potensi besar yang telah dimilikinya.
Disadari atau tidak sesungguhnya dalam kehidupan, seringkali
kita juga berada dalam kondisi yang serupa. Sketsa pikiran kita
terperangkap dalam kotak korek api buatan kita sendiri.
Terbelenggu dengan bayangan rantai yang kita ciptakan sendiri.
Sehingga rantai-rantai itu membuat kita tidak berhasil untuk
maju.
Rantai belenggu ini juga bisa berasal dari lingkungan kita.
Sebenarnya kita mempunyai potensi yang luar biasa. Tapi
teman-teman mencela ketika kita menunjukkan karya kita.
Keluarga yang tidak mendukung akan kemampuan kita. Lambat
laun akhirnya kita melupakan potensi besar yang kita miliki.
Beberapa Rantai Belenggu Kehidupan diantaranya :
1. Rantai Usia
Salah satu alasan yang sering digunakan untuk menolak
amanah, tugas atau sebuah tantangan. "Aku masih terlalu
muda, masih hijau .. masih banyak yang lebih tua dan
berpengalaman." Atau sebaliknya. Merasa diri sudah tua. Biarkan
yang muda yang berperan. Begitu biasanya alasannya. Sesaat
kemudian dirinya pun mundur. Akhirnya menghalanginya
untuk maju dan sukses.
Jika kita salah satu yang terbelenggu dengan rantai tersebut. Ada
baiknya kita menyimak kesuksesan seseorang yang bernama
Doktor Sayyid Muhammad Husein Thabathaba'i. Hafal Al-Qur'an
dengan tafsirnya. Dalam kesehariannya, dia berbicara dengan
bahasa al-Qur'an. Berasal dari Iran dan berhasil meraih gelar
doktor honoris causa termuda di dunia pada usia 7 tahun. The
Amazing Child, begitu orang-orang memanggilnya.
Hem .. saat usia 7 tahun kita ngapain ya ? Masih main kelereng
kali ? Sementara pada umur yang sama Sayyid Husein telah
bergelar Doktor !
Banyak cerita sukses lainnya, usia muda atau usia tua tidak
mampu menghalangi mereka untuk mencetak prestasi.
2. Rantai Pendidikan
"Aku hanya S-1", "Aku tidak tamat SMA", dan lain sebagainya
menjadi alasan kita menjadi seorang yang biasa-biasa. Padahal
kita punya potensi luar biasa.
Perjalanan hidup Andrie Wongso bisa kita jadikan inspirasi. Pada
saat kelas 6 SD, Andrie putus sekolah karena sekolah
Tionghoanya ditutup Pemerintah Orde Baru. Untuk bertahan
hidup, dia berjualan kue di pasar dan toko di Malang. Siapa
sangka keuletannya membuahkan hasil. Kini dia dinobatkan
sebagai Motivator No. 1 di Indonesia. Diapun bangga dengan
gelarnya yang agak asing di telinga kita. Andrie Wongso SDTT
TBS .. Sekolah Dasar Tidak Tamat Tapi Bisa Sukses !!, di Zaman
Nabi SAW tidak ada satu sahabatpun yang bergelar Doktor atau
Profesor bahkan Nabi sendiripun tidak, Beliau-Beliau hanya
Home Schooling bersama Nabi tetapi sukses membawa Visi
Kehidupan yang gemilang.
3. Rantai Nasib
Pernahkah kita bercermin ? Kemudian beberapa saat, kita
menghela nafas panjang .. kecewa dengan jeleknya wajah dan
penampilan kita ? kita tidak perlu sakit hati. Karena kesuksesan
tidak mensyaratkan peraihnya berwajah ganteng atau cantik.
Setidaknya Tukul Arwana dan Sule telah membuktikannya !, di
Zaman Nabi SAW ada Bilal bin Rabah mantan Budak yang hitam
legam berhasil sukses sebagai salah satu sahabat Nabi yang
dijamin masuk Sorga.
4. Rantai Kesehatan
Bagi sebagian orang, menyerah karena keterbatasan fisik atau
kesehatan adalah hal yang wajar. Mereka berhak untuk
dikasihani karena ketidaksempurnaannya. Tapi bagi mereka
yang bermental pejuang, tak ada satupun yang mampu
membelenggunya. Selama raga masih ada, selama itu pula
derap perjuangan akan terus dilangkahkan.
Setidaknya untuk orang seperti Syaikh Ahmad Yasin, Sang
Pemimpin Hamas. Beliau sangat ditakuti oleh Israel. Hingga
kematian beliau dianggap sebagai salah satu puncak
kemenangan mereka. Padahal beliau adalah seorang yang tua
renta berkursi roda. Bicaranya pun terbata-bata.
Namun, bertolak belakang dengan keadaan fisiknya. Justru
dalam keterbatasan itulah, beliau mampu menjadi poros
penggerak utama perjuangan rakyat Palestina. Beliau dengan
suara yang terbata-bata mampu menggerakkan ribuan pemuda
Palestina untuk melakukan serangan Intifadhoh. Serangan yang
kini dikenang dunia sebagai lambang perlawanan abadi tanpa
henti melawan kebiadaban Israel. Lelaki tua renta ini, dari kursi
rodanya .. mampu membuat para pemimpin Israel tidak bisa
tidur nyenyak karena perasaan tidak amannya. Allahu Akbar !!
lalu bagaimana dengan kita ??
Menyimak cerita sebagian orang-orang yang luar biasa tadi,
semestinya tidak kita sikapi dengan rasa kagum yang
berlebihan. Justru harusnya menjadi pemacu semangat kita
dalam meraih prestasi.
Seorang Husein Thobathaba'i yang masih sangat muda bisa
mendapat gelar doktor .. kenapa kita yang lebih senior tidak !
Andrie Wongso yang tidak tamat SD bisa jadi motivator ulung ..
harusnya kita juga mampu ! Tukul Arwana yang terbilang
hidupnya kurang beruntung bisa sukses .. kenapa kita yang
terlahir dengan nasib yang lebih baik tidak bisa ?? Lalu kenapa
kita yang terlahir sempurna malah stagnan seperti ini sedangkan
Syaikh Yassin yang cacat mampu meraih prestasi gemilang ??
Rantai sadar atau tidak sadar yang membelenggu kita harus
segera kita musnahkan. Ketahuilah bahwa rantai itu sifatnya
maya. Kadang-kadang buatan kita sendiri seperti rasa malas,
merasa tidak cukup diberi waktu, merasa belum cukup umur,
masih ingin happy-happy dan banyak lagi yang lain
Cara menghancurkannya adalah dengan membuat daftar
belenggu yang ada pada diri kita secara jujur. Sehingga kita bisa
menghancurkannya. Membuang jauh-jauh rantai gajah dan
kotak korek api yang memenjarakan kita. Bersiaplah untuk
melakukan perjalanan menuju realita kesuksesan.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum
kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri
mereka" ( Q.S : Ar-Ra'du : 11 )
Sahabat, Tanamlah gagasan, petiklah tindakan. Tanamlah
tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah
karakter. Tanamlah karakter, petiklah nasib. Dimulai dari gagasan
yang kita wujudkan dalam tindakan, kemudian tindakan itu kita
lakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang
kita lakukan berkali-kali akan menjelma menjadi karakter, dan
karakter inilah yang akhirnya mengantarkan kita kepada nasib.
Jadi nasib kita, kita sendirilah yang menentukan. Nasib kita ada di
tangan kita. So… Allways to a way unlimited success together
with Rumah Yatim Indonesia, please click http://www.rumah-
yatim-indonesia.org/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 April 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: