RSS

>Ketika Keluarga Menjadi Cahaya

13 Des

>KETIKA KELUARGA MENJADI CAHAYA

Sahabat, yang diberkahi Allah SWT, betapa seringkali kita
mengagung-agungkan dan memuji-muji potensi orang lain, orang-orang
sukses diluar diri dan keluarga kita, padahal mereka sama seperti diri
dan keluarga kita yang sama-sama memiliki potensi yang dianugerahkan
Allah SWT kepada kita, namun kadang kita lupa untuk memupuk dan
menumbuhkan potensi itu..

Bahkan seringkali kita melihat banyaknya orang yang cacat fisik dan
cacat mental menjadi orang sukses yag luar biasa, mengapa kita tidak
mampu ? padahal kita dan keluarga kita adalah orang-orang normal dan
memiliki kesempatan dan waktu yang sama 24 jam per hari.

———————————

Dikisahkan ada seorang ayah 23 tahun tinggal di Madinah yang mulai
rapuh imannya, sholat sering ditinggalkan, pergaulan bebas mulai
dinikmati, jalan-jalan pintas kejahatan juga ditempuhnya, lelaki ini
menceritakan kisah hidupnya………….

"Saya memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun, bernama Marwan. Ia bisu
dan tuli. Ia dididik ibunya, perempuan shalihah dan kuat imannya.
Suatu hari setelah adzan maghrib saya berada di rumah bersama anak
saya, Marwan. Saat saya sedang merencanakan di mana berkumpul bersama
teman-teman nanti malam, tiba-tiba, saya dikejutkan oleh anak saya.
Marwan mengajak saya bicara dengan bahasa isyarat yang artinya,

"Mengapa engkau tidak shalat wahai Abi?"

Kemudian ia menunjukkan tangannya ke atas, artinya ia mengatakan bahwa

"Allah yang di langit melihatmu".

Terkadang, anak saya melihat saya sedang berbuat dosa, maka saya kagum
kepadanya yang menakut-nakuti saya dengan ancaman Allah. Anak saya
lalu menangis di depan saya, maka saya berusaha untuk merangkulnya,
tapi ia lari dariku. Tak berapa lama, ia pergi ke kamar mandi untuk
berwudhu, meskipun belum sempurna wudhunya, tapi ia belajar dari
ibunya yang juga hafal Al-Qur'an. Ia selalu menasihati saya tapi belum
juga membawa faidah. Kemudian Marwan yang bisu dan tuli itu masuk lagi
menemui saya dan memberi isyarat agar saya menunggu sebentar, lalu ia
shalat maghrib di hadapan saya. Setelah selesai, ia bangkit dan
mengambil mushaf Al-Qur'an, membukanya dengan cepat, dan menunjukkan
jarinya ke sebuah ayat (yang artinya):

"Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa
adzab dari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi
syaithan" (QS. Maryam: 45).

Kemudian, ia menangis dengan kerasnya. Saya pun ikut menangis
bersamanya. Anak saya ini yang mengusap air mata saya. Kemudian ia
mencium kepala dan tangan saya, setelah itu berbicara kepadaku dengan
bahasa isyarat yang artinya,

"Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah ditanam dalam kubur dan sebelum
datangnya adzab!"

"Demi Allah, saat itu saya merasakan suatu ketakutan yang luar biasa.
Segera saya nyalakan semua lampu rumah. Anak saya Marwan mengikutiku
dari ruangan satu ke ruangan lain sambil memperhatikan saya dengan
aneh. Kemudian, ia berkata kepadaku (dengan bahasa isyarat),

"Tinggalkan urusan lampu, mari kita ke Masjid Besar (Masjid Nabawi)."

Saya katakan kepadanya, "Biar kita ke masjid dekat rumah saja." Tetapi
anak saya bersikeras meminta saya mengantarkannya ke Masjid Nabawi.

Akhirnya, saya mengalah kami berangkat ke Masjid Nabawi dalam keadaan
takut. Dan Marwan selalu memandang saya.Kami masuk menuju Raudhah.
Saat itu Raudhah penuh dengan manusia, tidak lama datang waktu iqamat
untuk shalat isya', saat itu imam masjid membaca firman Allah (yang
artinya),

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah syetan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah
syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan
keji dan munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan
rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih
(dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi
Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha
Mendengar dan Maha Mengetahui" (QS An-Nuur: 21).

Saya tidak kuat menahan tangis. Marwan yang berada disampingku melihat
aku menangis, ia ikut menangis pula. Saat shalat ia mengeluarkan
tissue dari sakuku dan mengusap air mataku dengannya. Selesai shalat,
aku masih menangis dan ia terus mengusap air mataku. Sejam lamanya aku
duduk, sampai anakku mengatakan kepadaku dengan bahasa isyarat,
"Sudahlah wahai Abi!" Rupanya ia cemas karena kerasnya tangisanku.
Saya katakan, "Kamu jangan cemas." Akhirnya, kami pulang ke rumah.
Malam itu begitu istimewa, karena aku merasa baru terlahir kembali ke
dunia.

Istri dan anak-anakku menemui kami. Mereka juga menangis, padahal
mereka tidak tahu apa yang terjadi.

Marwan berkata tadi Abi pergi shalat di Masjid Nabawi. Istriku senang
mendapat berita tersebut dari Marwan yang merupakan buah dari
didikannya yang baik.

Saya ceritakan kepadanya apa yang terjadi antara saya dengan Marwan.
Saya katakan:

"Saya bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, apakah kamu yang
mengajarkannya untuk membuka mushaf Al-Qur'an dan menunjukkannya
kepada saya?"

Dia bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa ia tidak
mengajarinya. Kemudian ia berkata:

"Bersyukurlah kepada Allah atas hidayah ini."

Malam itu adalah malam yang terindah dalam hidup saya. Sekarang
-alhamdulillah saya selalu shalat berjamaah di masjid dan telah
meninggalkan teman-teman yang buruk semuanya. Saya merasakan manisnya
iman dan merasakan kebahagiaan dalam hidup, suasana dalam rumah tangga
harmonis penuh dengan cinta, dan kasih sayang.Khususnya kepada Marwan
saya sangat cinta kepadanya karena telah berjasa menjadi penyebab saya
mendapatkan hidayah Allah."

Subhanallah……, betapa indahnya ketika anak, istri dan suami kita
menjadi sholeh dan sholehah, ketampanan dan kegagahan lelaki memang
memikat demikian juga kemolekan wanita lebih sangat memikat. Namun
apalah artinya ketampanan dan kemolekan itu tak mampu sedikitpun
memberikan kedamaian dan keharmonisan rumah tangga ?

Syukuri keberadaan keluarga kita saat ini, pupuk terus dan tumbuhkan
menjadi manusia-manusia yang hebat yang mampu memberikan cahaya dalam
rumah tangga kita, rumput dan tanaman di luar kadang terasa lebih
indah dan kita lupa bahwa rumput dan tanaman yang ada di rumah jauh
lebih indah dan dapat kita nikmati setiap saat. Tidak rindukah kita
menjadi Bidadari dan Bidadara yang hidup kekal dalam segala bentuk
kenikmatan.

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya
dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan
tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya
petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak
mengambil pelajaran?" (QS Al Jatsiyah : 23)

Rumah Yatim Indonesia, klik http://www.rumah-yatim-indonesia.org/
——————–
=======================================

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Desember 2010 in Posting lewat email

 

2 responses to “>Ketika Keluarga Menjadi Cahaya

  1. myun

    14 Desember 2010 at 12:37 PM

    >terima kasih postingannya ya..kunjungi halaman kami ok!

     
  2. Yaser A

    15 Desember 2010 at 7:15 AM

    >Sama – sama, pak … eh bu' eh panggil apa ya.?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: