RSS

>Menyelami kedalaman makna PUASA

11 Agu

>

10 Agustus 2010 Menyelami Kedalaman Makna Puasa Oleh Ibnu Djarir
PUASA adalah suatu jenis ibadat ( ritus) pada hampir semua agama.
Hanya nama, bentuk, waktu, dan lamanya berbeda-beda. Umumnya puasa
merupakan suatu bentuk keprihatinan, menahan makan dan minum,
menjauhi suasana bersenang-senang yang berbeda dari suasana berpesta
ria. SGF Brandon dalam bukunya A Dictionary of Comparative Religion
menyebutkan beberapa motivasi puasa dalam agama- agama suku, antara
lain (1). Menandai persiapan remaja yang memasuki kehidupan
beragama; ( 2 ) Sebagai ungkapan rasa berkabung; (3). Sebagai
bentuk pertaubatan. Suatu kepercayaan, bahwa penderitaan dengan
menahan diri dari makan dan minum dapat meredam kemarahan dewa,
adalah umum dilakukan di dunia. Menurut ajaran Islam, puasa adalah
suatu ibadat menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual
pada siang hari dengan menjauhi perbuatan yang tercela. Tujuan puasa
dinyatakan dalam Alquran Surah Al-Baqarah Ayat 183 yang artinya,''
Wahai orang- orang yang beriman, telah diwajibkan kepadamu berpuasa
sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, semoga
kamu menjadi orang yang bertakwa.'' Takwa dalam arti luas mencakup
pengertian : (1). Takut kepada Allah SWT atas siksa-Nya yang pedih
bagi orang yang mengabaikan perintah dan melanggar larangan-Nya;
(2). Taat kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintah dan
menjauhi larangan-Nya; (3). Cinta kepada Allah SWT, Pencipta alam
semesta,Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dengan selalu
taqarrub ( mendekat ) kepada- Nya. Menurut para pemeluk agama
Yahudi, Nabi Musa sebelum menerima wahyu dari Tuhan di Bukit Sinai
berpuasa 40 hari , mulai terbit fajar hingga terbit bintang pada
senja hari. Menurut keyakinan mereka, orang yang akan menerima wahyu
Tuhan harus suci lahir dan batin. Kalau tidak suci, dia tidak dapat
berkomunikasi dengan Tuhan, sebab Tuhan Maha Suci. Umat Kristen
menjalankan puasa mulai pagi hingga senja hari, dan dapat
diperpanjang hingga paginya lagi dengan membaca doa-doa. Dalam agama
Kristen, puasa tidak bersifat wajib tetapi sukarela. Karena dalam
agama Kristen terdapat banyak denominasi (aliran), pelaksanaan
puasa sangat bervariasi, baik tanggal, pantangan, maupun lamanya.
Pencapaian Kualitas Menurut agama Hindu puasa merupakan bagian dari
tapa, yaitu latihan jasmani dan rohani untuk menebus dosa dan
meningkatkan daya tahan menghadapi berbagai macam penderitaan.
Istilah puasa dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta,
yaitu upawasa, yang artinya menjauhi apa yang terdekat atau apa yang
paling disenangi, seperti makan, minum, hubungan seksual dan
sebagainya. Puasa yang terutama dalam agama Hindu adalah pada hari
Nyepi, dalam rangka menyambut tahun baru Saka. Waktunya hanya satu
malam, dan pada malam itu umat Hindu menjauhi kesenangan secara
total, diisi dengan membaca Kitab Weda dan mantera-manetra,
menghentikan semua kegiatan yang tidak penting dan tidak menggunakan
api (amati geni). Dalam agama Buddha, ibadat puasa disebut upasota
yang dijalankan mulai pukul 12.00 hingga 18.00. Lama puasa terserah
pada pribadi masng-masing terkait dengan tingkat keutamaan yang ingin
dicapai oleh setiap individu. Upasota dalam agama Buddha bersifat
sukarela. Menurut Encyclopaedia Britannica, di antara agama-agama
besar, hanya agama Kong Hu Cu yang tidak mempunyai ajaran tentang
puasa sebagaimana agama-agama lain. Bila diselami secara mendalam,
ajaran puasa dalam agama-agama itu mempunyai tujuan untuk mencapai
kualitas kerohanian tinggi, yaitu kesucian batin yang mendorong
timbulnya perilaku terpuji. Di Indonesia, yang mayoritas
penduduknya beragama Islam, persiapan menghadapi bulan Ramadan
sungguh luar biasa, berupa persediaan makanan dan minuman untuk
berbuka, pakaian Lebaran, dana zakat fitrah, zakat mal, infak, dan
sadaqah, menyambut tamu Lebaran, mudik, dan lain-lain. Kegiatan umat
Islam menghadapi bulan Ramadan dan Lebaran itu mempunyai efek
peningkatan kegiatan ekonomi yang menguntungkan berbagai lapisan
masyarakat. Namun dalam pengamatan kita, kegiatan umat Islam lebih
banyak menyangkut aspek fisik atau lahiriah. Adapun fungsi puasa
untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, kesucian batin, dan
solidaritas sosial tampaknya kurang berhasil menjadi kenyataan.
Hal ini perlu mendapat perhatian dari para mubalig, ustad, kiai,
ulama, guru agama, dosen agama, dan lain-lain agar dalam
melaksanakan dakwah dan tarbiyah lebih menekankan tentang
fungsionalisasi ibadah puasa. (10) — Drs H Ibnu Djarir, Ketua MUI
Provinsi Jawa Tengah

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Agustus 2010 in Uncategorized

 

One response to “>Menyelami kedalaman makna PUASA

  1. Roenza010

    20 Agustus 2010 at 5:14 AM

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: